Saturday, 19 December 2015

Soichiro Honda: Jatuh Bangun Merintis Usaha

Soichiro Honda: Jatuh Bangun Merintis Usaha, show room mobil honda, kesuksesan Saichiro mendirikan perusahaan Honda

Siapa pun boleh bermimpi mempunyai perusahaan yang besar, multinasional, dan go international. Namun, menggapai mimpi itu tidak mudah, harus melalui perjuangan panjang dan jalan yang berliku. Apalagi yang bermimpi adalah seorang pemuda miskin, dari keluarga miskin, berasal dari desa yang sangat terpencil.

Silakan baca kisah sebelumnya, Ternyata Pendiri Perusahaan Honda Seorang Pemuda Miskin.

Perjuangan Soichiro dalam meraih mimpi besarnya tidaklah mulus. Berbagai macam usaha telah ia perjuangkan. Namun kegagalan demi kegagalan selalu menyertainya. Hidupnya sempat terlunta-lunta, kehabisan uang, dan jatuh sakit berbulan-bulan. Semua itu akhirnya terbayar setelah Soichiro berhasil mendirikan perusahaan otomotif terbesar di dunia, Perusahaan Honda.

"Mereka melihat keberhasilan saya yang hanya satu persen. Tapi mereka tidak melihat 99% kegagalan saya," ujar Soichiro Honda.

Keluar dari Zona Nyaman

Sejatinya kehidupan Soichiro sudah mapan sebagai karyawan. Dia adalah kepala cabang bengkel Art Shokai di Hamamatsu. Karirnya bergerak sangat cemerlang sehingga bengkel yang dipimpinnya menjadi bengkel yang terbesar di kota itu.

Namun, cara berpikirnya yang selalu dinamis menjadi dorongan yang kuat untuk bekerja mandiri, mendirikan bengkel sendiri. Setelah penemuan velg beruji logam yang laku keras di pasaran, akhirnya ia memutuskan keluar dari bengkel Art.

Teman-teman kerjanya sangat menyayangkan keluarnya Soichiro dari bengkel Art yang telah dibesarkannya. Apalagi setelah keluar dari bengkel tersebut Soichiro mengalami kegagalan demi kegagalan. Tapi tekadnya sudah terlanjur bulat, ia sama sekali tidal menyesali keluar dari zona nyaman tersebut. Ia tetap bermimpi, suatu saat ia akan berhasil.

Pernah Ditolak oleh Toyota

Di bengkel miliknya sendiri, Soichiro fokus melakukan penelitian dan pengembangan. Sementara urusan reparasi diserahkan pada anak buahnya. Saat itu Soichiro sedangkan fokus pada pembuatan ring piston.

Akhirnya ia berhasil membuat ring piston. Kemudian ditawarkan ring piston tersebut ke sejumlah perusahaan otomotif, di antaranya ke Toyota. Sayang karyanya tersebut ditolak oleh Toyota karena tidak memenuhi standar. Ring piston buatannya tidak lentur, mudah patah, dan menggores dinding silinder.

Ring Piston
Ring Piston
Akibat kegagalan itu, ia sempat sock dan jatuh sakit yang serius. Dua bulan kemudian ia baru sembuh dan memimpin bengkelnya lagi. Semangatnya tumbuh lagi untuk memperjuangkan ring piston.

Menyadari akan kekurangan ring piston buatannya, akhirnya ia memutuskan untuk menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Hamamatsu jurusan Mesin. Padahal saat itu umurnya sudah 28 tahun. Dari sana ia mendapat pengetahuan bahwa untuk membuat ring piston diperlukan campuran logam lain, di antaranya silikon.

Berkat kerja kerasnya, pada tanggal 20 November 1937 rings piston berhasil dibuatnya. Ring pistonnya kali ini diterima oleh Toyota. Setelah menandatangani kontrak kerja sama dengan Toyota, Soichiro langsung mendirikan pabrik pembuatan ring piston yang diberi nama Tokai Seiki.




Rintangan demi Rintangan

Pabrik pembuatan ring piston, Tokai Seiki, yang digagas oleh Soichiro nyaris gagal beroperasi karena kesulitan mendapatkan dana. Pemerintah Jepang waktu itu sedang bersiap menghadapi Perang Dunia II sehingga menghentikan kucuran dana ke masyarakat.

Untunglah Soichiro tidak patah semangat. Ia berusaha mengumpulkan dana dari sekelompok orang tertentu. Dana pun terkumpul sehingga pada tahun 1941 pabrik ring piston tersebut mulai beroperasi.

Namun malang, ketika Perang Dunia II meletus pabriknya ikut terbakar. Peristiwa ini terjadi sampai dua kali. Lagi-lagi Soichiro tidak patah semangat. Ia segera mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan untuk mengambil sisa-sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat. Dengan kreativitasnya, kaleng-kaleng tersebut dimanfaatkan Soichiro untuk mendirikan kembali pabriknya.

Tanpa diduga, gempa bumi melanda wilayahnya. Gempa tersebut sangat dahsyat sehingga menghancurkan pabriknya. Soichiro menyerah, dijualnya pabrik piston tersebut pada Toyota.

Soichiro mencoba usaha lain. Di masa itu industri tekstil berkembang sangat pesat. Ia berkeinginan membuat mesin tenun yang lebih canggih dari yang ada saat itu. Ia pun berhasil. Didirikannya pabrik mesin tenun yang akhirnya kandas karena kekurangan modal.

Datangnya Inspirasi

Setelah Perang Dunia II usai, Jepang menderita kekalahan yang besar dan mengalami krisis ekonomi. Hidup Soichiro pun terlunta-lunta. Tidak ada yang bisa ia kerjakan. Ia sudah tak berminat lagi membangun kembali pabriknya. Bahkan ia hanya ingin bermain suling seharian.

Untuk menghidupi keluarga, Soichiro menjual mobilnya. Waktu itu sangat sulit menjual mobil karena bensin langka dan kehidupan porak poranda akibat perang.

Karena tidak ada yang bisa dikerjakan lagi, ia bermain-main dengan sepeda pancalnya. Di saat mengayuh sepeda ia membayangkan seandainya sepeda pancalnya itu diberi mesin penggerak. Dasar otak mesin, ia pun mewujudkannya, ia memasang motor kecil pada sepeda itu. Inilah cikal bakal sepeda motor Honda.

Sepeda Motor Honda Pertama

Secara kebetulan ada seorang teman yang menawarkan mesin pemancar radio bekas kegiatan perang. Tak tanggung-tanggung, jumlah mesin yang ditawarkan ada 500 buah. Dengan senang hati Soichiro menerimanya. Dimanfaatkannya mesin-mesin tersebut sebagai motor penggerak sepeda.

Sepeda bermotor pertama yang dibuat Soichiro sangat sederhana. Untuk mengendarainya, mesin harus dipanasi dan digenjot selama 30 menit. Setelah itu baru bisa digunakan. Tetapi sepeda pancal bermotor kreasinya ini banyak diminati orang. Para tetangga dan kerabat banyak yang memesannya. Hanya dalam waktu setahun, 500 mesin pemancar radio tersebut berubah fungsi menjadi motor penggerak sepeda dan habis terjual.

Menyadari besarnya kebutuhan sepeda bermotor saat itu, Soichiro berniat untuk mendirikan pabrik sepeda motor. Ia terus mengembangkan mesin sepeda motornya. Kali ini ia membuat mesin sendiri. Diciptakannya mesin Dream A, B, C, sampai mesin Dream D. Mesin Dream D adalah mesin 2 tak 98 cc dengan kecepatan maksimum 50 km/jam.

Sepeda motor Honda pertama bermesin Dream D tahun 1949 - 1951
Sepeda Motor Honda Dream D

Bertemu dengan Marketer Hebat

Sepeda motor buatan Soichiro Honda mulai dikenal orang. Saat itu Soichiro mempunyai keinginan yang kuat untuk mendirikan pabrik sepeda motor. Bersamaan dengan itu pula seorang marketer hebat bernama Takeo Fujisawa menawarkan diri bergabung untuk membangun pabrik pembuatan sepeda motor. Ternyata kehadiran Fujisawa membawa perubahan besar terhadap perkembangan perusahaan sepeda motor milik Soichiro Honda.

Fujisawa-lah yang memaksa Soichiro membuat mesin 4 tak. Karena menurut uji coba yang dilakukan Fujisawa pada masyarakat, mesin Dream D yang 2 tak itu sangat bising. Akhirnya duet mekanik dan marketer ini melahirkan mesin 4 tak dengan suaranya lebih halus, hemat bahan bakar, dan mempunyai kecepatan maksimum 75 km/jam.

Dengan andalan mesin 4 tak ini, perusahaan Honda menjadi perusahaan sepeda motor nomor satu di Jepang. Bahkan sekarang menjadi sepeda motor nomor satu terlaris di dunia. Sekarang ini produksinya bukan hanya sepeda motor melainkan juga mobil serta alat-alat teknologi lainnya.

Demikian liku-liku perjalanan Soichiro Honda dalam mewujudkan impiannya. Semoga dapat membangkitkan semangat kita dalam bekerja.

No comments:

Post a Comment

Maaf, komentar yang tidak berhubungan dengan isi artikel, banyak mengandung singkatan kata, atau mengandung link aktif, tidak kami tayangkan.

Komentar Anda akan kami moderasi sebelum kami tayangkan. Centang 'Notify me' agar Anda mendapat pemberitahuan lewat email bahwa komentar Anda sudah ditayangkan.